Featured Post

Danau Kelimutu dan Pesona 3 Warna Air yang Dilihat dari Langit

Keindahan Danau Kelimutu membuat banyak orang ingin ke sana. Tapi memang tidak mudah mencapai puncak gunung Kelimutu untuk menatap keind...

Tuesday, June 18, 2013

Gawi akbar, semarakkan rangkaian peringatan hari lahir Pancasila di Ende


Siapa yang tidak mengenal tarian Gawi? Untuk kalangan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), tarian ini sudah sangat populer dan memasyarakat, karena selain ditampilkan pada saat upacara adat, tarian ini juga sering ditarikan di acara-acara pesta atau dipentaskan pada acara-acara resmi lainnya.


Tarian Gawi ini merupakan salah satu tarian adat suku Lio, salah satu suku terbesar di Kabupaten Ende (dan juga di pulau Flores), yang biasa ditarikan di kala upacara-upacara adat dilaksanakan. Meskipun dengan gerakan langkah kaki dan tangan dalam satu irama (ritmis) yang sama, namun terdapat beberapa versi tarian ini, yang saling berbeda antara satu suku kecil dengan suku kecil lainnya, terutama dalam hal formasi kaum wanitanya, yang berada pada sisi luar dari kaum pria saat tarian ini ditampilkan. Ada yang menempatkan kaum wanita pada posisi melingkari (mengelilingi) kaum pria dalam satu lingkaran penuh, namun ada pula yang menempatkan kaum wanita pada posisi setengah lingkaran. Dalam perkembangannya, tarian ini tidak hanya dipentaskan di saat upacara adat saja, namun juga dipentaskan di luar suasana upacara adat sebagaimana disebutkan di atas.

Dalam memperingati 68 tahun lahirnya Pancasila, 1 Juni 2013 di Ende, untuk pertama kalinya, Pemerintah Kabupaten Ende menggelar tarian Gawi massal (akbar) yang melibatkan sekitar 3.000 orang penari. Tarian ini dipentaskan di lapangan Pancasila (dulu disebut lapangan Perse), satu hari sebelum hari lahirnya Pancasila diperingati secara Nasional di kota tersebut, yaitu dipentaskan pada tanggal 31 Mei 2013. Para penari yang terlibat berasal dari bebagai profesi, etnis dan agama yang ada di kota ende. Panitia mencoba menampilkan keanekaragaman profesi, etnis dan agama ini untuk mewakili keanekaragaman struktur masyarakat Indonesia yang sangat majemuk.



Guna menampilkan tarian gawi yang megah, meriah, menarik dan kolosal ini, cukup lama persiapan yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Ende, selain mempersiapkan hal-hal teknis lainnya yang berkaitan dengan kedatangan bapak Wakil Presiden RI, Budiono, guna meresmikan dua situs bersejarah yaitu situs Patung permenungan Bung Karno dan Rumah Pengasingan Bung Karno. Di tengah suasana musim penghujan yang tak pasti, latihan demi latihan pun digelar guna menampilkan yang terbaik, yang juga dilaksanakan untuk memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) sebagai tarian gawi terbesar sepanjang sejarah.

Dalam pementasan kolosal ini, Gawi ditarikan oleh pria dan wanita yang berpakaian adat (tradisional). Yang pria memakai baju kaos oblong berwarna putih polos (sebagian lainnya tidak berkaos alias bertelanjang dada), dengan bawaan sarung khas pria (ragi) yang dilengkapi dengan destar dan selempang. Sedangkan kaum wanita mengenakan “baju ende” berwarna merah maron dan biru yang melambangkan warna danau kelimutu, sebuah danau tiga warna yang menjadi salah satu ikon Kabupaten Ende, dengan bawaan sarung khas wanita (lawo).






Sebagaimana ciri khas tarian ini, yaitu bahwa tarian berjalan dengan irama “sodha” yang dinyanyikan tanpa iringan musik oleh seorang “ata sodha”. Karena berkaitan dengan peringatan hari lahirnya Pancasila, maka “ata sodha” yang pada kesempatan tersebut diperankan oleh bapak Albertus Bale, melagukan kalimat-kalimat yang berkaitan dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia khususnya berkaitan dengan lahirnya Pancasila, sebagai hasil permenungan Bung Karno selama empat tahun menjalani masa pengasingan di Ende (1934 - 1938).    
==Tigadanauwarna.blogspot.com==

Baca Juga :

Booking.com