Recent Posts

Featured Post

Danau Kelimutu dan Pesona 3 Warna Air yang Dilihat dari Langit

Keindahan Danau Kelimutu membuat banyak orang ingin ke sana. Tapi memang tidak mudah mencapai puncak gunung Kelimutu untuk menatap keind...

Thursday, September 18, 2014

Moke, Bagaimanakah Proses Pembuatannya?

Jika anda adalah penggemar Moke, atau setidaknya anda pernah menikmati Moke, tapi apakah anda juga mengetahui cara pembuatannya. Moke adalah sebutan bagi arak (minuman keras) bagi orang Ende Lio. Moke merupakan minuman yang tidak asing bagi kehidupan masyarakat Ende Lio, karena ia merupakan bagian dari acara-acara adat istiadat yang berlaku di masyarakat. Hampir semua perayaan adat istiadat maupun pesta-pesta di daerah ini melibatkan Moke sebagai minuman pelengkapnya.

Di pasaran lokal Ende Lio, kita bisa mendapatkan Moke dalam 3 kelas kualitas dengan harga yang berbeda. Untuk Moke kelas I, yang masyarakat setempat menyebut “DW” dapat dibeli dengan harga Rp. 30.000,-/botol. Untuk Moke kelas II, dapat dinikmati dengan harga Rp. 20.000,- sampai Rp. 25.000,-/botol. Dan untuk Moke kelas III dapat dinikmati dengan menyediakan uang sejumlah Rp. 15.000,-/botol.

Bagaimanakah cara pembuatannya?

Moke biasa dibuat dari nira yang berasal baik dari pohon kelapa, gebang, maupun enau (Aren). Kebanyakan Moke di Ende Lio dibuat dari nira yang berasal dari pohon Aren yang tumbuh liar di hutan-hutan dan lahan-lahan penduduk. Cara membuatnya yaitu diawali dengan mengumpulkan nira yang ditampung dalam bambu-bambu yang diikat pada bagian bunga pohon kelapa atau Aren. Nira ini diperoleh dari tetesan irisan bunga kelapa atau Aren. Nira segar di pagi hari sangat terasa manis dan nikmat. Dari nira ini, lalu dapat dibuat Moke dengan kadar alkohol yang berbeda-beda yang juga membedakan kelas mutu dan harganya.


Gambar : Nira dari pohon Aren

Nira yang diambil dari pohon kelapa atau Aren tersebut kemudian ditampung dalam satu wadah, disaring, lalu dimasak untuk dijadikan Moke.

Proses pembuatannya merupakan sebuah proses yang disebut penyulingan, dengan menggunakan peralatan – peralatan tradisional yang dirangkai menjadi satu peralatan pemasakan dan penyulingan. Peralatan masak dan penyulingan ini terdiri dari Tungku perapian, Periuk tanah, dan rangkaian Bambu. Tungku perapian berfungsi sebagai tempat melakukan pembakaran/pemasakan nira. Periuk tanah berfungsi sebagai wadah pemasakan nira, dan rangkaian bambu sebagai wadah pengembunan. 

Untuk membuat rangkaian bambu diperlukan dari jenis bambu betung (bambu besar), dan bambu lokal lainnya. Rangkaian bambu dipasang mulai dari mulut periuk tanah, lalu disambung dengan bambu-bambu yang berukuran lebih kecil, yang diarahkan ke tempat penampungan Moke yang dihasilkan. Semakin panjang rangkaian bambu, maka kualitas Moke yang dihasilkan akan semakin baik. Sebelum dirangkaikan, tentunya bambu-bambu tersebut dilubangi/ ditembusi pada bagian ruas-ruasnya agar uap air dapat mengalir melewati bambu, menuju tempat penampungan.

Setelah nira dimasukan kedalam periuk tanah, lalu ujung bawah bambu besar (bambu betung) dipasang rapat pada mulut periuk tanah. Biasanya rangkaian ini sudah statis, dan tidak bisa dibongkar pasang, yaitu dimulai dari peletakan periuk tanah pada tungku api, sambungan dari mulut periuk tanah ke bambu, dan dari bambu ke bambu lainnya.







Selanjutnya dilakukan pembakaran/pemasakan nira secara terus menerus hingga terjadi penguapan, dan nira yang ada di dalam periuk tanah menjadi habis karena penguapan. Secara otomatis, uap yang terbentuk akan melewati rangkaian-rangkaian bambu ini, mengalami proses pendinginan, dan pengembunan. Cairan hasil pengembunan keluar pada ujung rangkaian bambu di sisi lain, lalu ditampung dalam wadah tersendiri (jerigen atau wadah lainnnya). Cairan tampungan ini yang disebut Moke (arak) dengan kualitas yang khas.

Untuk mendapatkan hasil Moke dengan kualitas yang semakin baik, maka terhadap cairan Moke yang ditampung pada proses pemasakan pertama ini dapat dilakukan proses pemasakan lagi (berulang) dan penampungan lagi cairannya. Dengan dilakukan pengulangan sebanyak 3 sampai 4 kali, kita sudah bisa mendapatkan Moke berkualitas nomor 1. Moke yang dihasilkan dari pemasakan dan pengembunan sebanyak satu kali, biasa diperoleh Moke dengan kualitas kelas III, dan Moke dengan proses pemasakan sebanyak 2 kali bisa diperoleh Moke berkualitas II.




Demikian sekilas cara membuat Moke, sebuah minuman tradisional Ende Lio yang cukup terkenal dan banyak digemari. Semoga bermanfaat...

=========

Booking.com