Recent Posts

Featured Post

Danau Kelimutu dan Pesona 3 Warna Air yang Dilihat dari Langit

Keindahan Danau Kelimutu membuat banyak orang ingin ke sana. Tapi memang tidak mudah mencapai puncak gunung Kelimutu untuk menatap keind...

Thursday, March 20, 2014

Kesenian (Mengenal Adat Moni Koanara) (5/11)

(Mengenal Adat Moni Koanara-Ende)

Kesenian

Seni Tari (Wedho Wanda)

Nenek moyang orang Moni telah mewariskan kepada mereka sejumlah tarian. Yang dikenal sampai sekarang adalah tarian Gawi, Wanda Pala Simo Sau, Sanggu Alu, dan Hai Nggaja. Semuanya merupakan tarian kelompok. Orang Moni tidak mengenal tarian solo.
Gejala ini merupakan salah satu bukti betapa kuatnya peranan kelompok dalam kehidupan masyarakat Moni.

a.       Gawi (Tandak)
Gawi adalah tarian tandak, yang melibatkan pria dan wanita. Struktur dasarnya berupa sebuah lingkaran terbuka serupa spiral. Lingkaran ini dibentuk oleh barisan para penari yang saling berpegangan tangan, dan sama-sama menghadap ke tengah lingkaran.
Ujung dalam lingkaran itu dinamakan Ulu (kepala), sedangkan ujung luarnya dinamakan Eko (ekor). Maka dapat dikatakan bahwa struktur dasar tarian ini berbentuk ular, yang membentuk lingkaran spiral.
Tarian ini dipimpin oleh seorang laki-laki yang mengambil tempat di ujung Ulu. Dia dinamakan Ata Sodha, yang bisa diartikan sebagai solis. Gerakan utama tarian yang jumlah pesertanya tak ditentukan ini, terletak pada kaki dan tangan, berupa gerakan maju mundur dan kesamping kiri dan kanan, dimana gerakan tangan mengikuti gerakan kaki.
Tarian ini tak diiringi musik instrumental. Lingkaran mulai hidup tatkala Ata Sodha mulai mengangkat Sodha atau solo. Ia sekaligus berperan sebagai dirigen, yang menyemangati para penari dengan lambaian sapu tangan. Bergemalah nyanyian sahut menyahut antara Ata Sodha dengan para peserta yang lain. Gerakan tarian ini menarik, karena bagian Ulu selalu bergerak lebih cepat dari bagian Eko. Semua gerakan berhenti ketika Ata Sodha berhenti melambungkan sodha.
Tarian ini dipentaskan di halaman kampung, yang dinamakan Kanga, baik pada siang hari, atau malam hari.
Tandak ini dimaksudkan untuk memeriahkan pesta-pesta adat seperti pesta panen, pengatapan rumah adat, pesta pekawinan, dan pelantikan Mosalaki. Melalui tarian ini, mereka mengungkapkan kegembiraan, meneguhkan ikatan kesatuan kelompok, serta menyatakan harapan akan kehidupan yang lebih sejahtera.

b.      Wanda Pala
Tarian Wanda Pala juga melibatkan pria dan wanita. Namun pada tarian ini, jumlah penari dibatasi. Biasanya wanita lebih banyak dari pria. Jika wanita berjumlah 6 (enam) orang, maka pria dua orang. Jika wanita berjumlah 8 orang, maka pria 4 orang. Para wanita mengenakan baju hitam (Nepa Mite) dan sarung Lawo. Dilengkapi perhiasan berupa Omembulu (emas) di telinga, gelang, dan Luka (selendang). Laki-laki dilengkapi dengan Destar, Luka, Ragi Mite (Lipa Hitam), sambil memegang Sau (parang). Para penari itu berdiri berbaris, yang biasanya hanya dua barisan, campuran pria dan wanita. Jadi laki-laki tidak membentuk barisan tersendiri.
Gerakan utama tarian ini terletak pada kaki dan tangan. Para wanita lebih banyak bergerak di tempat, sedangkan yang laki-laki sebentar-sebentar meliuk-liuk diantara wanita-wanita itu, mengikuti irama musik Nggo Wani (gong dan gendang). Tangan wanita meniru burung elang yang sedang terbang.
Tarian ini dimaksudkan sebagai tarian menyambut tamu, terutama tamu yang besar (para pejabat) atau disebut “simo ata ria”. Dengan tarian ini, mereka mengucapkan kegembiraan dan penghormatan mereka pada tamu agung itu.

c.       Hai Nggaja
Hai Nggaja adalah tarian menang perang, yang dibawakan bersama-sama oleh pria dan wanita. Busana yang dikenakan seperti pada Wanda Pala. Hanya saja pada tarian ini, yang laki-laki dilengkapi dengan Mbaku atau perisai. Jumlah penari Hai Nggaja dibatasi sampai 8 (delapan) atau 10 (sepuluh) orang pria dan wanita dengan jumlah yang sama. Jika berjumlah 10 orang, maka terdiri dari 5 (lima) orang pria dan 5 (lima) orang wanita. Pria dan wanita wasing-masing membentuk satu barisan yang berdiri saling berhadapan. Tarian ini diiringi dengan musik Nggo Wani dan nyanyian bersahut-sahutan antara penari pria dan wanita. Juga tempik sorak sorai khusus penari pria, yang menandakan kegembiraan menyambut kemenangan di medan perang. Tempik sorai itu juga merupakan tanda kejantanan kaum pria.
Tarian perang ini dipentaskan pada pesta-pesta adat yang besar, seperti pada pelantikan Mosalaki dan pesta panen. Ia mengungkapkan keperkasaan suku. Kini juga dipentaskan dalam menyambut tamu agung, sebab kehadiran tamu agung juga menandakan kebesaran suku.

d.      Sanggu Alu (Dorong Alu)
Tarian ini adalah tarian khusus muda-mudi. Dalam memainkan tarian ini, ada dua kelompok muda-mudi dengan jumlah yang sama. Mereka memegang sebatang Alu. Masing-masing kelompok berada di tiap ujung Alu. Keduanya mengadu kekuatan dengan mendorong Alu itu ke pihak lawan. Yang mampu menggeser lawan menjadi pihak yang menang.
Tarian ini sebenarnya lebih merupakan suatu permainan, yang disertai tempik sorak dan nyanyian tertentu untuk memberi semangat pada masing-masing kelompok. Tarian yang merupakan penyaluran kesenangan muda-mudi ini biasanya dilakukan pada malam hari di bulan purnama, di halaman kampung.

e.      Simo Sau (Terima Pedang)
Inilah tarian khusus para Mosalaki Ria Bewa, yang dilakukan pada upacara Tasi Kamba Dari, yaitu pembunuhan kerbau pada pesta rumah adat. Mula-mula Mosalaki mengucapkan Bhea, serupa seruan mengenai kebesaran suku. Misalnya Seruan Ria Bewa Daniel Balu Bata :

“Balu Bata Ana Tana
Bata Bewa Wiwi Nganga Wega
Bata Legu Wiwi Bita Benu
Ria Lau Eko Londi Kota Jawa
Ulu Lowo Luku
Daga Sai Lamba!...”

Artinya :

Balu Bata adalah anak tanah ini,
Bata.. bagaikan ombak yang menerjang,
Menghempas manusia,
Menguasai wilayah ini dari batas hingga ke batas,
Dari hulu sampai ke muara,
Memerintah tanah ini!

Setelah melambungkan Bhea ini, sang Mosalaki menari-nari melonjak-lonjak mengelilingi Kanga dengan parang di tangan. Setelah beberapa kali mengelilingi Kanga, sang Mosalaki memarangi leher kerbau itu. Lalu menyusul Mosalaki lainnya.

Tarian ini tak dapat dipentaskan setiap saat dan tempat, sebab tarian ini merupakan bagian dari satu upacara adat yang sakral.

Baca Juga :


Booking.com